Self Talk

Dear My Future Self

Dear, my future self,

Tulisan ini aku peruntukkan untuk kamu, aku di masa depan. Kepada aku 10, 20 atau 30 tahun lagi, aku yang mungkin sudah dihampiri keriput ataupun uban di rambut. Aku dengan usia yang lebih banyak dari saat ini, aku yang berharap bijak di dalam diri dapat berkembang sejalan dengan banyaknya usia aku. Surat ini untuk kamu.

Aku di masa depan ketahuilah bahwa hidup mungkin dapat lebih keras dan galak dari ibu sendiri. Yup, tidak ada yang pernah bilang hidup menjadi orang dewasa itu mudah, bahkan hidup itu sendiri tidaklah mudah. Tapi, aku punya kepercayaan pada kamu, hey my future self. Banyak hal yang mungkin akan berubah. Banyak tuntutan yang datang sebagai orang dewasa.

Lalu, tidak hanya orang-orang di sekitar kamu, tapi masalah-masalah pun akan datang dan pergi. Aku dan kamu tahu bahwa kita tidak dapat menebak hidup akan seperti apa, akan berjalan seperti apa. Oleh karena itu, aku menulis surat ini untuk kamu. Surat yang aku harap dapat mengingatkan kamu kembali. Mengingatkan kamu, orang seperti apa kamu sebelumnya. Sebelum tertimpa dan tersapu masalah-masalah kedewasaan. Mengkhayal dan berimajinasi mungkin sudah kamu lupakan, terkubur sibuknya hari-hari mengejar pencapaian demi pencapaian. Mungkin saat kamu membaca surat ini, kamu juga sudah jarang bertemu atau berkumpul dengan teman-teman terdekat kamu. Mereka sibuk dan kamu lebih sibuk lagi. Tidak ada tempat bagimu untuk berkeluh kesah dan mencaci bagaimana hidup menertawakan kamu dan penyesalan-penyesalan kamu.

Aku harap dapat menguatkan kamu, aku di masa depan. Mungkin ada ombak besar yang berusaha menggulung dan menenggelamkan kamu, masalah yang datang itu kamu rasa begitu sulit. Pikiran dan perasaan membuat kamu merasa tidak sanggup dan kamu juga mulai kehilangan optimisme masa muda kamu. Kamu merasa hilang arah dan hilang harapan. Ingatlah ini, aku di masa depan, bahwa menulis akan menyelamatkan kamu. Guratan kata demi kata yang kita tuangkan di kertas putih akan menjelma menjadi pikiran dan perasaan kita yang sudah tidak tertahan tidak dapat keluar kemudian tertuang tumpah – tumpah. Keluarkan saja, keluarkan semuanya. Kertas putih itu dapat menampung semua luka dan sedih hati kamu. Aku di masa depan, sekeras apapun kamu jatuh atau sejauh apapun kamu sudah bepergian tapi ingatlah untuk kembali menulis.

Kuatlah dan ambil kertas dan penamu !

Tertanda,

Dirimu Saat Ini

Here Comes The Journey

Perjalanan dimulai dari sebuah perubahan..

Layaknya anak-anak lain, aku juga pernah berpikir untuk merubah dunia. Ingin kehadiranku di dunia meninggalkan jejak dengan membuat atau merubah dunia menjadi lebih baik.

Lalu kemudian.. Muluk ? Yeah, especially when you think about it again five or ten years later. Apa yang merubah hal tersebut ? Kenapa kini aku tidak lagi ingin merubah dunia, tidak lagi bermimpi dunia dapat menjadi tempat yang lebih layak untuk di tinggali ? Apa karena aku hidup di dunia ini sedikit lama ? kemudian akhirnya aku menyadari bahwa perubahan yang menyeluruh, mendalam, massive dan terstuktur  bukanlah hal yang mudah (tapi bukan berarti tidak mungkin juga sih). Aku menyadari bahwa perubahan tidaklah harus besar, akan tetapi perubahan kecil yang memberi dampaklah yang lebih mengena, rite ?  Perubahan. Tidak masalah apakah itu besar atau kecil, tapi dampak dari perubahan itulah yang penting.

Aku sendiri juga mengalami perubahan dalam hidup. Dulu aku merasa aku anak yang cukup kuat (bukan kuat seperti Hercules atau Samson gitu ya) tapi aku merasa termasuk anak dengan ketahanan tubuh yang kuat. Hal ini dimana aku gak gampang sakit bahkan saat temen-temen pada tumbang karena padatnya tugas atau aktivitas sekolah, Alhamdulillah sakit yang berkunjung palingan flu atau masuk angin. Makanya aku mengatakan bahwa aku anak yang cukup kuat. Akan tetapi, suatu ketika aku terbangun dengan tubuh yang seluruhnya sakit. Lalu, setelah mendapat diagnosis dari dokter, terjadi perubahan dalam hidup aku, dimana aku bukan lagi anak kuat yang selama ini aku kenal. Perubahan kecil ini membawa dampak yang cukup besar dalam hidupku. Aku harus merubah pola hidup yang selama ini aku jalani menjadi pola hidup yang lebih sehat, less stress and less tired. Dalam semalam perubahan kecil ini membawa dampak yang cukup besar dalam kehidupan aku.

Dengan perubahan yang datang ini aku menjadi banyak berpikir. Sebagian kita terbiasa hidup di comfort zone, jika kemudian datang perubahan apa kita siap ? Dan apa kita mau juga untuk berubah ? Kemudian aku kembali bertanya, kapan seseorang mau berubah ? Apa karena harus berubah ? Atau karena kita merasa dan kita ingin berubah ?