[Jalan-jalan] Taman Balai Kota Bandung dan [Review Kuliner] Wiki Koffie

Pada suatu pagi, aku merasa ingin menghirup udara pagi yang segar. Setelah beberapa hari tidak banyak keluar, sibuk saja di dalam kosan,hehe. Lalu, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di salah satu taman di Bandung. Gak literally jalan kaki juga sih, aku sempat naik angkot dulu karena aku pengen singgah ke taman yang belum pernah aku singgahi. Dan taman yang aku pilih untuk disinggahi kemarin adalah Taman Balai Kota Bandung. Ya, aku memang baru kesini L

Begitu ngeliat, aku langsung terpengarah, wow banget ternyata. Ini beberapa hasil hunting foto di Taman Balai Kota Bandung.

PicsArt_05-04-10.03.17

(tampak atas Taman Balai Kota Bandung)

PicsArt_05-04-10.07.36 (1)

(Foto di Gembok Love yang letakknya di dalam Taman Balai Kota Bandung)

Dan enak juga ternyata duduk-duduk disini sambil baca buku, segar.. Klo masih pagi ya, gak tau deh klo udah siang-siang, secara jalanan depan taman ini suka macet, apalagi jam pulang sekolah.

PicsArt_05-04-10.05.31

 

Jam sudah menujukkan pukul 11.00 dan udara sudah mulai panas, perut juga sudah mulai kriuk-kriuk, cacing-cacing udah pada minta dikasi makan. Aku kemudian berjalan ke arah Jl Braga karena disana banyak tempat-tempat makan enak. Saat aku akan menyebrang ke Jl Braga, tidak jauh dari tempat aku berdiri ada “Wiki Koffie” coffee shop gitu sepertinya. Seringkali aku melihat coffee shop ini rame dikunjungi anak-anak muda, jadi aja belum berkesempatan mencoba kopi disini. Aku mengintip ke dalam ruangan, agak sepi, tanpa tedeng aling-aling aku langsung masuk dan mencari tempat duduk yang paling nyaman.

PicsArt_05-04-09.30.14

Mbak yang memberikan aku menu terlihat ramah dan menyenangkan. Lalu, setelah menu sudah dihadapan, aku sibuk membalik-balik menu tersebut. Menilik-nilik jenis makanan dan juga harganya (hihihi). Wow, ternyata harga makanan dan minuman disini ramah sekali di kantong loh. Harga makanan dan minumannya mulai dari Rp 9.000 aja loh..

Setelah menilik-nilik menu, mata dan perut aku tergugah ama salah satu menu yang namanya Monkey Pie. Sebagai pecinta makanan manis, Monkey Pie ini terlihat menggiurkan sekali dengan whip cream putih bersih dan irisan coklat diatasnya. Ngeliatnya aja langsung light up my day banget. Lalu, aku memesan es kopi susu yang akan berdampingan dengan Monkey Pie ini. Like people said, but first coffee ! Yeah, I kinda need the rush from caffeine.

PicsArt_05-04-09.19.06

Datanglah si Monkey Pie dan es Kopi Susu pesanan aku. Tanpa banyak berpikir (yaiyalah) langsung aku gigit tuh si Monkey Pie, dan isi pie tersebut ternyata pisang yang sudah dilembutkan. Rasanya jangan ditanya, duh sekali gigit langsung gak mau berenti. Pie nya dingin karena disimpan di kulkas sepertinya. Tapi, justru itulah yang menambah rasa yummynya. Isi pisang dengan whip cream lembut yang dingin, ditambah homemade kulit pienya yang kress waktu digigit, aku sih makan dengan senang hati. Untuk es kopi susunya sendiri, rasa pahit dan asam kopi sangat terasa, bahkan di kali pertama aku meneguk es kopi susu itu.

PicsArt_05-04-09.50.25

Overall, I’m a satisfied consumer *grin* *happy* perut kenyang dan hati senang. Wajar dan pantes banget klo Wiki Koffie ini selalu rame dikunjungi anak-anak muda, harga bersahabat dan rasanya yang nikmat. Pertahankan dan Kembangkan lagi Wiki Koffie !!

PicsArt_05-04-09.14.01

 

[Review Wiki Koffie] (4/5)

Monkey Pie : Rp 14.000 (5/5)

Es Kopi Susu : Rp 10.000 (3,8/5)

Ambiance (4/5)

Service (4/5)

Wifi (3,5/5)

Lokasi : Wiki Koffie, Jalan Braga no 90, Bandung.

 

Siapa yang udah pernah icip-icip ke Wiki Koffie ini juga ? Share dong gimana hasil icip-icip kamu ?

 

 

Netizen and All Their Judgement

Yup, tulisan ini terjadi akibat MBA ! (Membaca (tweet) By Accident) dan begitu ngeliat tweet itu, aku langsung tersadar akan banyaknya perbincangan aku dengan teman-teman mengenai opini-opini netizen di sosial media. Opini yang seringkali membuat aku terhenyak sendiri ngebacanya.

Ketika ada hal yang terjadi, semisal isu mengenai xxx (sengaja di sensor aja, karena tidak merujuk pada isu apapun) yang sedang ramai diperbincangkan, tidak pelak kita ingin ikut berkomentar mengenai hal-hal tersebut. Dengan adanya sosial media, tiap individu merasa perlu ataupun wajib mengemukakan opininya mengenai peristiwa yang sedang terjadi. Ke-eksis-an kita di media sosial dipertaruhkan. Oleh karenanya penting untuk menyampaikan pemikiran kita, baik melalui kicauan di twitter, post di facebook ataupun di blog. Menurut gue pribadi gak ada yang salah dengan hal tersebut. Dengan membagikan pemikiran kita ataupun berita-berita yang sedang terjadi di sekitar kita (asal jangan hoax :D)

Tapi, dari pemikiran atau opini para netizen di sosial media, tentu saja hadir pro dan kontra. Seringkali, kebencian, hinaan dan cacian pun mewarnai. Mulai dari pemikiran yang dangkal sangat tidak beralasan hingga pemikiran mendalam yang perlu kita cerna. Aku sendiri merasa sangat menyenangkan apabila ada yang melayangkan opini di media dengan dilandasi argumen, bukan hanya opini pribadi mengenai sesuatu hal yang dan hanya ikut-ikutan tahu bukan literally know about it !

Setidaknya yang ingin aku garis bawahi adalah kenapa tidak mencoba untuk melihat lebih jauh mengenai suatu topik, coba lihat dari berbagai sudut pandang (dan kau akan lebih memahami – disadur dari petualangan sherina,hehe) tidak menutup mata dan pikiran dengan kacamata kuda dan hanya terpatok berputar-putar dengan pemikiran sendiri. Lalu sibuk menghakimi sebelah mata. Alangkah lebih baiknya sebelum berkomentar akan sesuatu hal, kita mencari tahu terlebih dahulu mengenai hal tersebut. Tidak serta merta menjudge begitu saja. Kita berusaha mencari tahu dan mengkajinya sendiri bukan hanya ikut-ikutan opini orang lain mengenai hal tersebut lalu kemudian menjudge suatu situasi. I guess, sometimes we make easily judgement based on something we barely have information about rather than something we know much about. Karena jika kita mengetahui sesuatu lebih dalam kita dapat mengembangkan empati akan suatu hal tersebut.

Tapi, sepertinya kita cenderung menolak hal baru atau hal yang kita kurang punya pengetahuan tentang itu dan lebih cenderung mengikuti opini orang lain atau opini significant person di sekitar kita, karena itu lebih mudah. Tidak perlu repot-repot berpikir atau berusaha memahami. Ada kalanya hal baru juga memberi rasa takut pada kita sehingga kita takut untuk memahami. Like Earl Nightingale said, “Whenever we’re afraid, it’s because we don’t know enough. If we understood enough, we would never be afraid.”

So, aku rasa judgment negatif atau cacian dan makian akan suatu hal baiknya bisa kita pertimbangkan kembali. Let’s surround ourself with every kind of person, explore and try be open-minded. You’ll never know what you might find, bigger perspective and bigger heart !

Dear My Future Self

Dear, my future self,

Tulisan ini aku peruntukkan untuk kamu, aku di masa depan. Kepada aku 10, 20 atau 30 tahun lagi, aku yang mungkin sudah dihampiri keriput ataupun uban di rambut. Aku dengan usia yang lebih banyak dari saat ini, aku yang berharap bijak di dalam diri dapat berkembang sejalan dengan banyaknya usia aku. Surat ini untuk kamu.

Aku di masa depan ketahuilah bahwa hidup mungkin dapat lebih keras dan galak dari ibu sendiri. Yup, tidak ada yang pernah bilang hidup menjadi orang dewasa itu mudah, bahkan hidup itu sendiri tidaklah mudah. Tapi, aku punya kepercayaan pada kamu, hey my future self. Banyak hal yang mungkin akan berubah. Banyak tuntutan yang datang sebagai orang dewasa.

Lalu, tidak hanya orang-orang di sekitar kamu, tapi masalah-masalah pun akan datang dan pergi. Aku dan kamu tahu bahwa kita tidak dapat menebak hidup akan seperti apa, akan berjalan seperti apa. Oleh karena itu, aku menulis surat ini untuk kamu. Surat yang aku harap dapat mengingatkan kamu kembali. Mengingatkan kamu, orang seperti apa kamu sebelumnya. Sebelum tertimpa dan tersapu masalah-masalah kedewasaan. Mengkhayal dan berimajinasi mungkin sudah kamu lupakan, terkubur sibuknya hari-hari mengejar pencapaian demi pencapaian. Mungkin saat kamu membaca surat ini, kamu juga sudah jarang bertemu atau berkumpul dengan teman-teman terdekat kamu. Mereka sibuk dan kamu lebih sibuk lagi. Tidak ada tempat bagimu untuk berkeluh kesah dan mencaci bagaimana hidup menertawakan kamu dan penyesalan-penyesalan kamu.

Aku harap dapat menguatkan kamu, aku di masa depan. Mungkin ada ombak besar yang berusaha menggulung dan menenggelamkan kamu, masalah yang datang itu kamu rasa begitu sulit. Pikiran dan perasaan membuat kamu merasa tidak sanggup dan kamu juga mulai kehilangan optimisme masa muda kamu. Kamu merasa hilang arah dan hilang harapan. Ingatlah ini, aku di masa depan, bahwa menulis akan menyelamatkan kamu. Guratan kata demi kata yang kita tuangkan di kertas putih akan menjelma menjadi pikiran dan perasaan kita yang sudah tidak tertahan tidak dapat keluar kemudian tertuang tumpah – tumpah. Keluarkan saja, keluarkan semuanya. Kertas putih itu dapat menampung semua luka dan sedih hati kamu. Aku di masa depan, sekeras apapun kamu jatuh atau sejauh apapun kamu sudah bepergian tapi ingatlah untuk kembali menulis.

Kuatlah dan ambil kertas dan penamu !

Tertanda,

Dirimu Saat Ini

Here Comes The Journey

Perjalanan dimulai dari sebuah perubahan..

Layaknya anak-anak lain, aku juga pernah berpikir untuk merubah dunia. Ingin kehadiranku di dunia meninggalkan jejak dengan membuat atau merubah dunia menjadi lebih baik.

Lalu kemudian.. Muluk ? Yeah, especially when you think about it again five or ten years later. Apa yang merubah hal tersebut ? Kenapa kini aku tidak lagi ingin merubah dunia, tidak lagi bermimpi dunia dapat menjadi tempat yang lebih layak untuk di tinggali ? Apa karena aku hidup di dunia ini sedikit lama ? kemudian akhirnya aku menyadari bahwa perubahan yang menyeluruh, mendalam, massive dan terstuktur  bukanlah hal yang mudah (tapi bukan berarti tidak mungkin juga sih). Aku menyadari bahwa perubahan tidaklah harus besar, akan tetapi perubahan kecil yang memberi dampaklah yang lebih mengena, rite ?  Perubahan. Tidak masalah apakah itu besar atau kecil, tapi dampak dari perubahan itulah yang penting.

Aku sendiri juga mengalami perubahan dalam hidup. Dulu aku merasa aku anak yang cukup kuat (bukan kuat seperti Hercules atau Samson gitu ya) tapi aku merasa termasuk anak dengan ketahanan tubuh yang kuat. Hal ini dimana aku gak gampang sakit bahkan saat temen-temen pada tumbang karena padatnya tugas atau aktivitas sekolah, Alhamdulillah sakit yang berkunjung palingan flu atau masuk angin. Makanya aku mengatakan bahwa aku anak yang cukup kuat. Akan tetapi, suatu ketika aku terbangun dengan tubuh yang seluruhnya sakit. Lalu, setelah mendapat diagnosis dari dokter, terjadi perubahan dalam hidup aku, dimana aku bukan lagi anak kuat yang selama ini aku kenal. Perubahan kecil ini membawa dampak yang cukup besar dalam hidupku. Aku harus merubah pola hidup yang selama ini aku jalani menjadi pola hidup yang lebih sehat, less stress and less tired. Dalam semalam perubahan kecil ini membawa dampak yang cukup besar dalam kehidupan aku.

Dengan perubahan yang datang ini aku menjadi banyak berpikir. Sebagian kita terbiasa hidup di comfort zone, jika kemudian datang perubahan apa kita siap ? Dan apa kita mau juga untuk berubah ? Kemudian aku kembali bertanya, kapan seseorang mau berubah ? Apa karena harus berubah ? Atau karena kita merasa dan kita ingin berubah ?